Minggu, 05 Februari 2012

Novel : Prolog - Obsesi

Kamu pasti tahu bagaimana rasanya suka itu, dimana orang yang kamu suka adalah orang yang benar-benar kamu sukai. Entah dari fisik maupun mental. Entah saat kamu lagi terikat berpacaran dengan yang lain atau tidak. Menyukai laki-laki dimana pada saat itu kamu sedang terikat hubungan khusus dengan laki-laki lain.

Kamu pernah alami rasa suka dengan seseorang? Maksudku, rasa yang benar-benar suka. Sampai kamu tahu silsilah keluarganya, sampai kamu tahu alamat rumahnya dan kamu tahu nomor teleponnya tapi kamu malu untuk SMS pertama? Kamu sering melihat dia diam-diam saat dia sedang belajar karena kamu dan laki-laki yang kamu sukai itu satu tempat les atau sekolah? Atau kamu suka memperhatikan apa yang ia lakukan dengan se-detail mungkin? Kamu pernah menyimpan foto-nya dari foto yang kamu download di friendster-nya dia atau di facebook-nya? Kamu tahu nama dan wajah dari teman-temannya? Atau kamu sampai mencatat dan ingat plat nomor motor juga mobilnya? Mengingat warna jaket yang suka ia pakai dan motif helm yang ia gunakan? Sampai akhirnya kamu tahu ukuran sepatunya? Ada yang pernah alamin seperti itu? Aku pernah.

Rabu, 14 Desember 2011

Tips & Trik for Ultimagz! : Menghadapi UAS

SEMANGAT MEMBARA MENJADI JUARA

Setelah beberapa mata kuliah kita lewati, kelulusan umumnya ditentukan oleh ujian, terutama ujian akhir semester yang terjadi selama satu atau dua jam saja. Sebenarnya sih itu semua tidak adil, apalagi untuk yang sudah belajar ’mati-matian’ dan pada saat diterima hasilnya, itu semua tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan. Maka dari itu, kita harus pandai-pandai mengatur strategi dalam belajar supaya hasil kerja keras kita sesuai dengan yang diharapkan. Berikut cara agar kita sukses menjadi juara:

1. Mengulang Pelajaran

Setelah kita mendapatkan pengajaran di kelas, alangkah baiknya kita mengulang pelajaran tersebut di rumah dengan cara membuat rangkuman kembali agar pelajaran lebih mudah dimengerti atau membuat catatan kita menjadi lebih enak dipandang, seperti membuat hiasan dengan cara Spider Web (Jaring Laba-laba) di setiap tulisannya. Hal tersebut akan membangkitkan ingatan kinerja otak kita.

2. Bertanya

Bertanya disini bukan dalam arti menyontek pada saat ujian, namun bertanya disaat pelajaran berlangsung di kelas. Maksud dari bertanya disini ialah jangan ragu bertanya kepada dosen tentang materi apa saja yang akan diujikan nanti ataupun tentang pelajaran yang tidak dimengerti. Tidak ada salahnya kan jika kita bertanya bagaimana soal yang akan diujikan agar saat belajar kita bisa menguasainya dengan benar?

3. Jaga Kesehatan

Nah, ini yang paling utama. Jika kalian sudah menguasai semua pelajaran dan siap untuk menghadapi ujian tapi fisik kalian tidak sanggup, sama saja bohong. Jadi, jagalah kesehatan dengan istirahat cukup dan makan makanan bergizi.

4. Percaya Diri

Percaya bahwa kalian dapat mengerjakan ujian dengan benar. Jangan panik ketika anda tidak mengerti maksud dari soal dan ketika waktu yang diperlukan tidak cukup, karena dengan begitu, ingatan yang ada dipikiran otak akan buyar dan menjawabnya dengan asal-asalan. So, stay calm, do your best and let God do the rest.

5. Jangan Menyontek

Mungkin kebanyakan mahasiswi melakukan hal ini, tapi tahukah kalian apakah benar jawaban orang yang kalian conteki itu benar? Mungkin kalian harus memikir dua atau beberapa kali lagi untuk melakukan ini. Pasalnya, selain keraguan jawaban, menyontek bisa mendatangkan kerugian bagi diri sendiri, baik itu kerugian waktu dan kerugian jika kalian ketahuan mencontek dan mendapatkan sanksi yang sudah disetujui. Jadi, masihkan anda mencontek?

6. Stop Cramming!

Sudah menjadi makanan setiap hari bagi para mahasiswa untuk menjadi cramming. Apa sih cramming? Cramming atau menjejalkan ialah istilah dari bahasa Inggris yang artinya belajar semalaman suntuk sebelum ujian, atau bisa juga dengan mengerjakan tugas semalaman suntuk sebelum deadline. Hal tersebut banyak diikuti oleh para mahasiswa karena mereka percaya bahwa dengan melakukan cramming, jiwa mahasiswa mereka sangat terasa. Padahal, setelah diteliti, cramming ini sebenarnya tidak baik loh. Kenapa? Karena, otak kita akan lelah dan cenderung cepat lupa jika kita sering bergadang mengerjakan tugas dan belajar dalam kondisi yang penat ditambah panik. Cara kondisi maksimal otak menerima pelajaran yaitu pada saat malam hari jangan tidur terlalu malam dan sebaiknya sebelum tidur melakukan hal yang menyenangkan seperti menonton film komedi, main game atau lakukan kegiatan yang tidak membuat stress agar saat tidur kita tidak gelisah karena memikirkan ujian besok.

7. Kerjakan Soal yang Mudah Dahulu

Jangan terpaku kepada soal-soal yang susah dan dahulukan soal yang mudah. Karena dengan begitu, anda dapat meminimalisirkan waktu yang anda peroleh dengan maksimal.

8. Berdoa dan Ikhlas

Semua usaha yang telah kita lakukan tidak lengkap jika tidak diiringi oleh doa. Berdoa agar semua yang telah kita lakukan menjadi sempurna dan juga tidak lupa belajar untuk ikhlas dengan hasil yang telah kita dapatkan nanti.

Minggu, 04 Desember 2011

"DECIDE" - Awalnya Hanya Mimpi



“Walau masih banyak kekurangan dalam film ini, tapi saya cukup puas dengan hasilnya, akhirnya film selesai sesuai yang dibayangin” ujar Sutradara film pendek ‘Decide’, Zidny Nafian.

Ziduy, begitulah ia akrab disapa. Mahasiswa UMN prodi Cinematography 2010 ini sangat senang, akhirnya film pendek ia dan teman sekelompoknya bisa diselesaikan sesuai dengan yang mereka harapkan. Ziduy, ditemani dengan Meidinda Tiara (Mei) sebagai Sutradara dan Sohali sebagai Director of Photography and Editing, akhirnya telah memenuhi tugas Ujian Tengah Semester (UTS) Digital Cinematography 1.

Film yang dibintang utamai oleh Kamal Muhammad sebagai Radit ini menjadi film perdana mereka untuk pemenuhan tugas UTS. Selain Kamal, banyak juga yang berpartisipasi dalam film ini, diantaranya: Rizki Ramadhan sebagai Lekong 1, Andrew Setiawan sebagai Lekong 2, Mentari Delita sebagai Perempuan yang Sedang Membaca, Nadya Witaningtyas sebagai Perempuan yang Sedang Meminjam Buku, Aditya Prima sebagai Pustakawan dan Santika Indri Eka Putri sebagai Kekasih Radit.

Lalu apa maksud dari arti ‘Decide’ini? Dan apa pula dasar film ini sehingga mereka menentukan alur film ini sebagai bahan UTS mereka? Berikut petikan wawancara saya, Santika Indri dengan Zidny Nafian.

Seperti apa cerita ‘Decide’ ini?

Cerita ini tentang Radit (Muhammad Kamal) yang memilih buku di Perpustakaan tapi untuk minjem buku itu ga gampang. Soalnya, banyak godaan dan halangan. Dan yang akhirnya Radit harus memutuskan memilih buku apa dari sekian banyak buku tersebut.

Darimana muncul ide ingin membuat film pendek seperti ini?

Sebenarnya itu idenya Mei, saya hanya mengembangkan sama menyesuaikan ceritanya saja.

Bagaimana proses pembuatan film? Apakah mengalami gangguan?

Proses pembuatan film pendek ini lumayan berat. Soalnya, baru pertama kali ngebuat film sendiri dengan jumlah kru 3 orang termasuk saya sendiri, jadi agak susah juga buat ngehandle hal-hal kecil. Gangguan pasti ada, apalagi ini film perdana kami.

Mengapa di film pendek ‘Decide’ ini yang ditentukan itu sebuah buku dan tempatnya di perpustakaan kampus?

Jadi gini, awal ceritanya itu tentang ‘Ice Cream’, cuma karena ada komunikasi yang kurang baik dari pihak tempat ice creamnya ditambah deadline yang mepet akhirnya diubah menjadi buku. Lalu kenapa di perpustakaan, soalnya, paling deket trus tempat shootingnya bisa cepet diurusnya jadi ga makan waktu banyak. Dan kenapa disini yang dipilih buku? Karena buku merupakan benda yang bermanfaat. Kalo kita mau membuka dan membacanya, entah itu kita jadi tambah tahu atau jadi tambah engga tahu, yang jelas buku itu sudah penuh dengan wawasan. Diharapkan film ini juga sama kayak buku itu, selalu memberi pesan yang enga pernah habis walau dibaca dan di tonton oleh seribu manusiapun.

Apa makna dari film pendek ‘Decide’ ini?

Maknanya ya pengen kasih pesan aja sama yang nonton kalau hidup itu penuh dengan pilihan. Jangan sampe salah pilih untuk kebutuhan kita sendiri. Dan juga, punya pendirian hidup itu penting.

Kira-kira ada minat buat bikin film pendek lagi tidak diluar kepentingan tugas kampus?

Ada, dan itu sedang dalam tahap pra-produksi.


Sabtu, 05 November 2011

Tame Impala - Solitude is Bliss

Mereka Sebut Saya “Sampah Masyarakat”

Ada pepatah bilang bahwa “kehidupan itu hanya sementara, maka manfaatkanlah waktu hidupmu untuk saling mengasihi, membantu sesama dan beribadah selain itu capailah keinginanmu”. Sekilas itu hanyalah pepatah. Pepatah? Siapa sih pepatah? Apa ada bukti nyata dari pepatah? Apa masih ada ya di abad ini percaya dengan pepatah?

Di abad ke 21 ini, kehidupan pepatah mungkin sudah dianggap tidak penting. Kok saya bisa tahu? Jawabannya mudah, karena saya mengamati. Saya adalah sebagian warga kecil yang hidup di tempat kecil dengan penghasilan kecil, dipandang kecil oleh masyarakat kecil dan mempunyai keluarga kecil, namun besar dampaknya bagi saya.

Saya hidup dengan satu anak laki laki, istri saya meninggalkan kami karena saya tidak layak lagi sebagai tulang punggung keluarga. Ia meninggalkan seorang anak berharga. Anak kebanggaan bangsa. Anak masa depan. Sungguh bodoh ia menelantarkan kami begitu saja. Dari situlah saya bertekad demi jiwa dan raga kalau saya harus membesarkan dan mendidik anak saya dengan benar sehingga kelak menjadi orang berguna dan tidak di tinggalkan oleh orang yang di sayangi. Itulah tujuan hidup saya.

***

Suatu hari anak saya bertanya kepada saya, ”Pak, bisa engga sih hidup kita berubah? Dan kenapa sih harus ada rakyat kecil dan rakyat besar? Saya malu pak, untuk mengharumkan suara saya saja susah sekali”. Saya diam, lalu berkata,

”Kamu tau kenapa? Karena di bangsa ini masih banyak tikus tikus jahat yang berkeliaran. Mereka mencium keju dengan cepat lalu mencurinya demi kehidupan mereka sendiri. Mereka tidak malu kalau keju yang mereka makan itu hasil dari para semut yang rajin bekerja. Dan satu hal lagi, mereka tidak pernah mendengar ocehan para semut”

Tertegun saya mengingat kata kata itu, dimana masyarakat terutama kalangan bawah seperti saya bekerja keras mencari rizki hanya untuk sesuap nasi demi kelangsungan hidup kami sekeluarga, namun mereka dengan tidak-ada-rasa-malunya mengambil hak kami.

***

Saya bekerja bertemu dengan banyak orang dan bertemu dengan bau menyengit penginderaan. Di tengah perjalanan saya bertemu teman saya, teman sepekerja.

”Cari apa Bur?” Begitulah saya dipanggil, Burhan

”Mencari sesuap nasi. Kita sama kan?”

“Ya sama, kita kan sependeritaan. Gimana, anakmu? Sudah tidak bertanya dengan pertanyaan aneh? Saya heran, anakmu pintar sekali bertanya. Tapi ia salah bertanya. Bertanya kok dengan lulusan SD” Ketawa itu seperti menusuk saya dari belakang.

Saya walaupun lulusan SD tapi saya bangga karena orang tua saya menyekolahkan saya dengan jujur. Dengan keringat mereka sendiri sampai suatu saat otot dan keringat itu pun terhenti di kelulusan SD.

”Sudah tidak”

”Kamu tau Bur, saya setuju dengan pertanyaan anakmu itu. Saya sendiri tidak mengerti pertanyaannya. Kamu jawab apa emangnya?”.

”Kalau saya jelaskan, kamu mungkin tidak percaya. Karena yang berbicara itu lulusan SD”

***

Tidak lama dari pertemuan saya dan Dedi, anak calon kebanggan bangsa itu menghampiri di mana saya bekerja. Anak laki laki yang memakai celana merah itupun langsung saya rangkul di sepanjang perjalanan lalu saya kecup rambutnya. Anak lelaki yang sudah menjadi bagian hidup saya. Dan hanya ia lah tumpuh tanduk saya kepadanya. Anak laki laki yang hanya mengandalkan beasiswa sehingga ia bisa menuntut ilmu dan kelak menjadi seorang yang berguna.

Ditengah perjalanan, kami menemukan pohon tinggi dan besar yang sepertinya tempat yang nyaman bagi kami untuk beristirahat sejenak di teriknya panas matahari menyengat yang membuat sekujur tubuh saya berkeringat dan mengeluarkan semacam bau tidak sedap melalui bolongan bolongan baju.

Ketika saya beristirahat sejenak, seketika banyak sekali daun berguguran di tanah. Pada saat itu juga anak saya, Ramlan bertanya, ”Pak, bisa mengandaikan daun daun ini jatuh tidak?”

”Tidak. Emangnya apa? Kamu bisa?”

Anak laki laki itu diam sejenak, lalu berbicara dengan lantang.

”Bapak tahu tidak, saya terinspirasi dari perkataan Bapak tempo lalu. Bahwa banyak tikus di negara ini yang suka memakan keju orang lain. Seperti daun ini pak. Pohon pohon selalu membuang daun daunnya. Daun daun yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk hidup. Mereka membuang daun daun seakan akan itu tidak berharga dan akan tumbuh lagi di musimnya nanti. Mereka tidak menyadari bahwa kami, kaum ulat sangat membutuhkan daun itu untuk kelangsungan hidup kami. Hanya daun saja kami dapat bertahan hidup. Tapi ternyata suara kaum ulat tidak terdengar oleh para pohon” Oceh anak laki laki di bawah umur 10 tahun itu.

Sekejap saya diam. Terharu dan ingin melinangkan air mata. Tapi malu.

***

Pada akhirnya, anak kebanggaan bangsa itu mendapatkan nilai unggul dan berhak mendapatkan beasiswa lagi untuk melanjutkan belajar di tingkat selanjutnya. Tidak salah dan tidak sia sia juga saya banting tulang untuk kehidupan kami.

Anak itu semakin lama semakin bertambah besar dan berfikir kritis. Ia selalu menanyakan hal hal yang saya kurang mengerti. Mungkin ia salah bertanya dengan lulusan SD yang hanya mengandalkan cara membaca dan menulis. Selebihnya di andalkan dari keteguhan hati.

Pernah suatu saat saya membaca koran yang membuat hati saya seperti menangis dan tangan saya ingin merangkul. Didalam koran tersebut tercantum artikel Opini Masyarakat, saya membaca sambil terharu

Kepada bapak Presiden RI, Bambang Susilo Yudhoyono.

Pak, saya mungkin hanya orang kecil dari yang paling terkecil. Orang hina dari yang terhina. Orang kalangan bawah dari yang terbawah. Saya hidup dan mendapatkan pengetahuan dari beasiswa. Bapak saya seorang yang berguna bagi masyarakat tapi masyarakat tidak memperdulikannya.

Bapak yang terhormat, bukankah kita semua mempunyai hak? Hak untuk hidup, hak untuk berbicara dan hak untuk mengeluarkan pendapat? Tapi mengapa hak itu semua tidak kami dapatkan pak?

Bapak yang baik, saya menulis surat ini di koran sangat butuh perjuangan. Saya wakil dari sekian juta warga masyarakat yang tidak bisa menaruh aspirasi opininya di koran ini. Bapak tahu kenapa bangsa ini selalu terpuruk dan tidak pernah maju? Karena banyaknya tikus tikus di bangsa ini, Pak. Mereka selalu mencari keju di manapun, padahal keju tersebut bukan hasil kerjanya sendiri, tapi kerja dari para semut yang bekerja sama dengan giat.

Karena keterbatasan tempat dan waktu, sekian dari saya, terima kasih

Ramlan.

***

Umur saya semakin lama semakin tua dan penyakit yang saya derita semakin lama semakin banyak dan berjamur. Saya sudah tidak kuat lagi. Mungkin saya sudahkan perjalanan ini. Saya sudahkan ketika anak kebanggaan bangsa menjadi sukses dan sekarang sudah menjadi bagian dari tikus tikus yang beberapa tahun lalu menjadi topik hangat dalam percakapan kami. Ternyata suara yang ia salurkan melalui koran tempo lalu itu di dengar oleh pejabat negara dan ia di sekolahkan hingga selesai gelar sarjananya.

Akhirnya ia mempunyai anak yang soleh dan soleha, isteri yang soleha dan patuh pada suami dan mempunyai keluarga yang bahagia. Sekali lagi saya tidak sia sia membesarkannya. Namun kali ini, saya yakin ia adalah tikus yang baik, tikus yang bertanggung jawab, yang tidak memakan hak orang lain dan tidak saling membedakan.

Ketika akhir hidup saya segera tiba, saya masih ingat ketika anak kebanggaan bangsa itu bilang

”Bapak tahu tidak, saya terinspirasi dari perkataan Bapak tempo lalu. Bahwa banyak tikus di negara ini yang suka memakan keju orang lain. Seperti daun ini pak. Pohon pohon selalu membuang daun daunnya. Daun daun yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk hidup. Mereka membuang daun daun seakan akan itu tidak berharga dan akan tumbuh lagi di musimnya nanti. Mereka tidak menyadari bahwa kami, kaum ulat sangat membutuhkan daun itu untuk kelangsungan hidup kami. Hanya daun saja kami dapat bertahan hidup. Tapi ternyata suara kaum ulat tidak terdengar oleh para pohon” Tujuan hidup itu akhirnya bahagia. Akhirnya sesuai dengan keinginan. Akhirnya tidak sia sia dan akhirnya mereka tidak lagi menyebut saya sebagai ”sampah masyarakat” melainkan anak dari ”sampah masyarakat” yang sukses.

Perkataan itu terngiang ketika akhirnya saya harus ucapkan kata laa illaaha ilallah.